LOW LIGHT   Leave a comment

EXPOSURE

Sering kita menghadapi pemotretan dengan kondisi low light  ( gelap) dan kita harus melakukan pemotretan dengan handheld . Berikut Tips nya agar pemotretan anda bisa maksimal dengan peralatan yang anda miliki.

  • Bukaan Diafragma diatur yang paling besar pada lensa yang anda gunakan f/1.4, f/1.2, f/2.8, f/3.5, f/4
  • Nyalakan VR ( Vibrate Reduction) atau IS (Image Stabilizer) jika lensa atau kamera anda memiliki feature ini.
  • Cermati titik aman speed nya. Umumnya minimal  titik aman adalah 1 kali focal length lensa anda, semakin lebih cepat semakin aman. Misalnya lensa dg focal length 18mm aman di speed 1/25 sec, lensa 28mm aman di 1/30 sec, lensa 50mm aman di 1/60 sec dst
  • Hati hati dengan lensa zoom karena setiap perpindahan focal length akan merubah titik amannya terutama jika anda suka bermain zoom in dan zoom out. Agar aman pasang di titik focal length terpanjang (tele). Misalkan lensa 18-70mm pasang di 1/125 sec, lensa 14-24mm pasang di 1/30 sec
  • Cermati kecepatan moment yang mau dipotret, misalnya orang berjalan/begerak aman di 1/60 sec
  • Yang terakhir baru setting ISO agar bisa mencapai titik aman di atas. Kenapa ISO pada urutan terakhir ? karena prioritas kita adalah tetap menghasilkan foto yang tidak Noise, sehingga diusahakan pada titik aman terendah.

TRIPOD FOR LANDSCAPES

Pada situasi low light untuk pemotretan landscape sering kita membutuhkan bantuan sebuah tripod untuk membantu pemotretan kita. Beberapa saat menggunakan tripod untuk keperluan pemotretan landscape adalah :

  • Pastikan Kamera sudah terkait dengan kuat pada mount plate tripod
  • Pastikan Kaki-kaki tripod sudah pada dudukan yang kuat dan terkunci
  • Letakan satu kaki tripod ke depan  searah dengan arah kamera, dan dua kaki ke arah kita. Hal ini untuk menghindarkan kamera terpelanting ke depan krn tersenggol atau lensa yang berat. Dan juga untuk menghindarkan tersenggol oleh kaki kita saat kamera exposing.
  • MATIKAN VR/IS (feature anti getar) karena kompensasi dari kerja motornya akan membuat shaking.
  • GUNAKAN ISO TERENDAH untuk pemotretan object diam atau untuk slow speed. Misalnya Iso 100 atau iso 50. Logikanya kita sudah pakai tripod tentunya  kita menginginkan gambar yang qualitasnya terbaik (bebas noise) dan ISO sudah tidak menjadi kendala untuk menghindarkan camera shake.
  • GUNAKAN DIAFRAGMA TERKECIL untuk Depth of Field yang luas dan ketajaman. Biasanya F/11 sd F/16 adalah favorite nya.
  • GUNAKANA SPIRIT LEVEL atau buble level untuk menentukan horison tidak miring. Biasanya di Tripod sudah ada jika mau lebih akurat bisa gunakan spirit level di hot shoe camera. Beberapa kamera keluaran terakhir sudah memiliki feature ini.
  • Umumnya menggunakan mode exposure Manual (M), untuk itu mulailah lakukan trial exposure yang sesuai, atau BULB jika membutuhkan exposure lebih dari 30 sec. Jangan lupa membawa jam/counter kecuali anda menggunakan cable release yang memiliki feature timer.
  • GUNAKAN CABLE RELEASE atau self timer untuk melepas rana. Karena sentuhan jari kita di tombol shutter akan menyebabkan shaking.
  • Untuk pemotretan di pantai berpasir dan kaki tripod terkena deburan ombak, pastikan bahwa kaki tripod tertanam dalam karena sapuan ombak akan menggerus dan menggeser kaki tripod serta hantamanya membuat kamera shaking.

FIREWORKS AND LIGHTNINGS

Fotografi kembang api maupun petir sangatlah menakjubkan dan indah, tetapi untuk membuat foto kembang api dan petir dibutuhkan teknik tersendiri. Pada dasarnya pemotretan kembang api dan petir memiliki prinsip yang sama.

  • Siapkan kamera beserta tripodnya
  • Ambil posisi untuk mendapatkan angle yang baik dan dapat menangkap kembang api/petir. Dan kondisi sekitar cukup gelap agar tidak mengganggu long exposure.
  • Matikan VR/IS jika memiliki feature ini di lensa atau di kamera anda
  • Pasang cable realease pada kamera anda
  • Setting kamera pada BULB (control buka dan tutup exposur ada pada diri anda, melalui cable release)
  • Setting diafragma di f/8 untuk DOF yang tajam dan luas, tetapi tidak terlalu lama exposenya
  • Setting ISO rendah untuk kualitas gambar/sesuaikan dengan setelan exposure f/8
  • Trial untuk durasi exposure untuk mengetahui batas overnya pada berapa second/detik.
  • Perhatikan dan cermati durasi/frekuensi kembang api atau petir.
  • Mulai menangkap moment dengan cara :
    • Buka rana dan tahan (dengan menekan terus cable release)
    • Tutup setelah kembang api menyala atau setelah  petir menggelegar.
    • Atur exposure untuk mendapatkan kembang api/petir yang berulang dalam satu frame
  • Memotret kembang api dan petir dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan serta jam terbang….
  • Hati-hati untuk pemotretan petir, hindarkan memotret diruang terbuka (bahaya tersambar) dan lindungi kamera dari air hujan.

By. Stephanus Hannie

Posted May 21, 2011 by bkuswara in Photograpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: